Langsung ke konten utama

Postingan

Katmini "Gadis yang Suaminya Direnggut dari Pelukan"

            Sejak kematian Karman tiga tahun silam, derita Katmini terus bergulir. Derita hati yang lara berkobar layaknya hiruk-pikuk kota Tebing Tinggi. Kegiatan yang sering dilakukan wanita pada umumnya tidak lagi menjadi hal yang rutin ia lakukan. Semua hidupnya lebih didominasi pada hal-hal yang tidak biasa. Hanya kursi bekas peninggalan suaminya yang menjadi kenangan dan teman bicaranya. Semua hal ia lakukan di atas kursi tersebut seperti seorang anak yang takut kehilangan mainan barunya.             Kegiatan yang ia lakukan hanya memainkan sejumput rambut sambil menembangkan satu tembang lagu jawa yang konon katanya tembang jawa ini lebih identik pada pemanggilan arwah kuntilanak. Sehingga tidak ada satu pun warga yang ingin berbicara dengannya. Jiwanya semakin terguncang ketika ia mendengar suara hujan dibarengi dengan suara gemuruh. Bukan karena ia takut akan riuh...
Postingan terbaru

Merapal Ayat Di Balik Sajak Kerinduan Oleh Denny E. Pratama

Setiaku enggan tuk menepi Seiring lelehan air mata langit  Yang menebar aroma basah  Di atas tanah surga milik kita Kau masih saja meramu rindu di atas cawan retak Warisan para tetuah kampung seberang Sedang aku tak lagi kau indahkan Merapal langkah di kegelapan Wahai cempaka berselendang merah Senyum mekarmu mulai memudar  Bibir tebal berbalut gincu merah pun mulai mengering Dan sejauh mata memandang Kau mulai tertunduk lemas tak berdaya Dan dengan langkah yang gontai sembari berucap “Aku lelah merapal ayat-ayat rindu pada sepenggal sajak kerinduan”

Dialog Kemelut ; Kepada Sang Pemuja Senja Oleh Denny E. Pratama

Jangan paksa aku menyeka air mata rindu yang berguguran ketika musim dingin datang mengunjungimu. Lalu jangan paksa aku membelai kilauan rambut hitammu yang tergerai lembut ketika musim semi menyapa. dialog kemelut antara kau dan aku Dan jangan pula paksa aku melacurkan kata manis berselimut sayang, bermahkotakan cinta ketika musim gugur berhamburan duduk menemanimu. Aku tak ingin keterpaksaan menyisakan duka bagimu. Karena aku tak ingin mengulum butiran air mata bekumu ketika duka itu mulai mendekap dan menyergapmu. Maka berlarinya ke arah timur menuju dermaga penantianmu lalu hancurkan kepingan-kepingan rindu yang kau semaikan di balik pahatan dinding tebing pelabuhan senja yang sengaja kau tujukan padaku. Sebab dengan begitu, senyum lebar tanda bahagiaku untukmu akan terpampang dan terpancar jelas saat fajar tiba.