Sejak kematian Karman tiga tahun silam, derita Katmini terus bergulir. Derita hati yang lara berkobar layaknya hiruk-pikuk kota Tebing Tinggi. Kegiatan yang sering dilakukan wanita pada umumnya tidak lagi menjadi hal yang rutin ia lakukan. Semua hidupnya lebih didominasi pada hal-hal yang tidak biasa. Hanya kursi bekas peninggalan suaminya yang menjadi kenangan dan teman bicaranya. Semua hal ia lakukan di atas kursi tersebut seperti seorang anak yang takut kehilangan mainan barunya. Kegiatan yang ia lakukan hanya memainkan sejumput rambut sambil menembangkan satu tembang lagu jawa yang konon katanya tembang jawa ini lebih identik pada pemanggilan arwah kuntilanak. Sehingga tidak ada satu pun warga yang ingin berbicara dengannya. Jiwanya semakin terguncang ketika ia mendengar suara hujan dibarengi dengan suara gemuruh. Bukan karena ia takut akan riuh...
Setiaku enggan tuk menepi Seiring lelehan air mata langit Yang menebar aroma basah Di atas tanah surga milik kita Kau masih saja meramu rindu di atas cawan retak Warisan para tetuah kampung seberang Sedang aku tak lagi kau indahkan Merapal langkah di kegelapan Wahai cempaka berselendang merah Senyum mekarmu mulai memudar Bibir tebal berbalut gincu merah pun mulai mengering Dan sejauh mata memandang Kau mulai tertunduk lemas tak berdaya Dan dengan langkah yang gontai sembari berucap “Aku lelah merapal ayat-ayat rindu pada sepenggal sajak kerinduan”