Sejak kematian
Karman tiga tahun silam, derita Katmini terus bergulir. Derita hati yang lara
berkobar layaknya hiruk-pikuk kota Tebing Tinggi. Kegiatan yang sering
dilakukan wanita pada umumnya tidak lagi menjadi hal yang rutin ia lakukan.
Semua hidupnya lebih didominasi pada hal-hal yang tidak biasa. Hanya kursi
bekas peninggalan suaminya yang menjadi kenangan dan teman bicaranya. Semua hal
ia lakukan di atas kursi tersebut seperti seorang anak yang takut kehilangan
mainan barunya.
Kegiatan yang ia
lakukan hanya memainkan sejumput rambut sambil menembangkan satu tembang lagu
jawa yang konon katanya tembang jawa ini lebih identik pada pemanggilan arwah
kuntilanak. Sehingga tidak ada satu pun warga yang ingin berbicara dengannya.
Jiwanya semakin terguncang ketika ia mendengar suara hujan dibarengi dengan
suara gemuruh. Bukan karena ia takut akan riuhnya gemuruh yang
memporak-porandakan ranting cemara. Tetapi karena hati dan pikirannya terketuk
mengingat kenangan bersama sang suami yang dengan manja selalu minta dibuatkan teh jahe. Kini teh jahe itu tidak lagi menjadi minuman yang rutin ia buat padahal sudah 3 tahun sejak kepergian suaminya.
“Aaaah..., teriak
Katmini sambil berdiri dan berlarian kesana kemari seperti orang linglung.
“Kenapa koe nduk,
tanya ibu yang sontak lari menuju suara teriakan Katmini.”
“Pamalih nduk,
ndak usah dipikirkan hal-hal yang sudah terjadi, serahkan saja kepada Gusti
Allah.”
Katmini menangis
dan memeluk ibunya, ia berharap deritanya sedikit berkurang. Sebab sejak
kematian Karman yang misterius, semua kebahagiaan seakan pergi meninggalkannya.
Kini ia seolah manikin usang yang tak
mampu berdiri kokoh. Hanya segelintir ucap yang ia ucapkan, itupun ketika perih
tak mampu lagi ia tahan. Kalau tidak, ia hanya sebatas manusia yang tidak
memiliki gairah untuk hidup sampai ia menemukan bukti kepergian Karman yang
begitu misterius.
To be
continue....
Komentar
Posting Komentar