Setiaku enggan tuk menepi
Seiring lelehan air mata langit
Yang menebar aroma basah
Di atas tanah surga milik kita
Kau masih saja meramu rindu di atas cawan retak
Warisan para tetuah kampung seberang
Sedang aku tak lagi kau indahkan
Wahai cempaka berselendang merah
Senyum mekarmu mulai memudar
Bibir tebal berbalut gincu merah pun mulai mengering
Dan sejauh mata memandang
Kau mulai tertunduk lemas tak berdaya
Dan dengan langkah yang gontai sembari berucap
“Aku lelah merapal ayat-ayat rindu pada sepenggal sajak kerinduan”
Seiring lelehan air mata langit
Yang menebar aroma basah
Di atas tanah surga milik kita
Kau masih saja meramu rindu di atas cawan retak
Warisan para tetuah kampung seberang
Sedang aku tak lagi kau indahkan
![]() |
| Merapal langkah di kegelapan |
Wahai cempaka berselendang merah
Senyum mekarmu mulai memudar
Bibir tebal berbalut gincu merah pun mulai mengering
Dan sejauh mata memandang
Kau mulai tertunduk lemas tak berdaya
Dan dengan langkah yang gontai sembari berucap
“Aku lelah merapal ayat-ayat rindu pada sepenggal sajak kerinduan”

Komentar
Posting Komentar