Setiaku enggan tuk menepi Seiring lelehan air mata langit Yang menebar aroma basah Di atas tanah surga milik kita Kau masih saja meramu rindu di atas cawan retak Warisan para tetuah kampung seberang Sedang aku tak lagi kau indahkan Merapal langkah di kegelapan Wahai cempaka berselendang merah Senyum mekarmu mulai memudar Bibir tebal berbalut gincu merah pun mulai mengering Dan sejauh mata memandang Kau mulai tertunduk lemas tak berdaya Dan dengan langkah yang gontai sembari berucap “Aku lelah merapal ayat-ayat rindu pada sepenggal sajak kerinduan”
Malam akan setia menanti kedatangan fajar meskipun ia harus kehilangan singgasana peraduannya