Sejak kematian Karman tiga tahun silam, derita Katmini terus bergulir. Derita hati yang lara berkobar layaknya hiruk-pikuk kota Tebing Tinggi. Kegiatan yang sering dilakukan wanita pada umumnya tidak lagi menjadi hal yang rutin ia lakukan. Semua hidupnya lebih didominasi pada hal-hal yang tidak biasa. Hanya kursi bekas peninggalan suaminya yang menjadi kenangan dan teman bicaranya. Semua hal ia lakukan di atas kursi tersebut seperti seorang anak yang takut kehilangan mainan barunya. Kegiatan yang ia lakukan hanya memainkan sejumput rambut sambil menembangkan satu tembang lagu jawa yang konon katanya tembang jawa ini lebih identik pada pemanggilan arwah kuntilanak. Sehingga tidak ada satu pun warga yang ingin berbicara dengannya. Jiwanya semakin terguncang ketika ia mendengar suara hujan dibarengi dengan suara gemuruh. Bukan karena ia takut akan riuh...
Malam akan setia menanti kedatangan fajar meskipun ia harus kehilangan singgasana peraduannya